Rasa di hati bukan hal yang bisa kita pastikan kadarnya.

Hari ini bisa membuncah tinggi membelah langit, besok bisa jadi kering hingga dasar bumi..

Tak ada yang bisa menjamin tentang kedalaman rasa. Namun, satu yang pasti, kesetiaan mampu mengikat dua jiwa tetap pada garis yang sama. Ada sesuatu yang lebih dari sekedar cinta yang hadir di sana. Ya, ada tanggung jawab yang membuat mereka tetap tinggal, meski rasa kadang ada, kadang hilang.

Kau tahu mengapa Tuhan jadikan ikhlas sebagai penyempurna segala rasa?

Karena kehadirannyalah yang mampu menutupi segala lubang kehilangan.

"Sudah saatnya membicarakan masa depan. Sudah saatnya duduk merenungi perjalanan, menyiapkan bekal untuk langkah selanjutnya. Bukan waktunya lagi untuk menyumpahi kesalahan yang sudah terjadi, apalagi terus-menerus mengungkit kisah lama, menyalahkan masa lalu. Dewasalah."
— fitya
"Tuhan, sungguh pun masa depan adalah rahasiaMu, mohon beri sedikit saja ruang atas izinMu padaku untuk membahagiakan mereka yang pernah ku kecewakan. Itu saja. Cukup itu saja."

Pantai Losari, Makassar.
Kenangan di tahun 2011.

How I miss that moment :”)

Karena menjadi dewasa tak semudah yang dikira. Ketika segala sesuatu menuntutmu harus membenci namun kedewasaan menawarkan
pembebasan akan rasa benci.

Ketika luka menuntut pembalasan, kedewasaan justru menawarkan pemaafan. Sungguh menjadi dewasa tak semudah kelihatannya. Namun sampai kapan harus menjadi anak kecil? Sampai kapan harus menanam beling di hati sendiri, sampai kapan harus mengorbankan kebaikan pada diri demi memuaskan nafsu dendam.

Menjadi dewasa adalah berani berdamai dengan segala yang meluluhlantakkan hati dan jiwa.

Menjadi dewasa adalah berani mengambil resiko terbesar sekali pun dari setiap pilihan yang ditawarkan Semesta.

Menjadi manusia dewasa
adalah menjadi manusia yang mampu membawa hidupnya dengan kakinya sendiri tanpa melupakan tangan orang lain yang membantunya belajar
berjalan.

"Karena Allah-lah sebaik-baiknya tempat meminta. :””)"
"Karena janji, adalah janji. Sekuat apapun kamu mengingkari, akan ada saat dimana kamu kan tersadar, janji tetaplah janji."
"Menulislah, sebab memorimu takkan sanggup mengingat semua ilmu yang pernah kau dapatkan. Menulislah, jadilah manusia yang gemar berbagi. Menulislah, agar kamu tetap waras. Menulislah, sebab tulisanmu akan membuatmu tetap ada walau jasad sudah dikandung tanah."
"Yang mampu menaklukan dunia adalah mereka yang mampu menaklukan sholat malamnya."
"Sebab perjalanan bukan hanya tentang seberapa banyak yang harus kamu siapkan, tapi juga seberapa banyak yang mampu kamu lepaskan."